Items filtered by date: April 2017
28 April 2017 In Pengumuman

First Resources Group adalah salah satu produsen minyak kelapa sawit yang berkembang cepat di Asia Pasifik dengan asset perkebunan yang berada di Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Bisnis utama perusahaan meliputi Budidaya Sawit, Panen Tandan Buah Segar, Produksi Minyak Sawit Mentah (CPO), Pengolahan CPO menjadi produk bernilai tambah seperti Olein, Sterin, Biodiesel, dan Inti Sawit. Dengan komitmen untuk memproduksi minyak sawit berkelanjutan, kami memaksimalkan produksi dan meminimalkan dampak lingkungan - sosial dari operasional perusahaan melalui benchmarking terhadap standar industry dan pelaksanaan terbaik.

Saat ini Kami sedang membutuhkan Sarjana Pertanian S1 untuk kami didik sebagai calon Field Assistant Trainee (FAT). FAT sendiri adalah program untuk menyiapkan calon Asisten Afdeling yang akan bekerja di Perkebunan Kelapa Sawit.

Bagi Alumni yang berminat, dipersilahkan mendaftarkan diri, atau bisa datang langsung pada saat hari seleksi.

 

LN - Subag Akademik & Kemahasiswaan

21 April 2017 In Berita

Fakultas Pertanian Universitas Andalas memulai program baru dengan Motivation Training and Alumni Gathering. Kegiatan ini bertujuan memberikan support bagi Mahasiswa Fakultas Pertanian dengan merangkul para alumni bersama-sama bersinergi untuk memberikan yang terbaik bagi Fakultas Pertanian khususnya. Alumni dapat memberikan wawasan baru sedangkan mahasiswa mendapatkan manfaat dari kegiatan ini, ujar Dekan Fakultas Pertanian Dr.Ir. Munzir Busniah, MSi pada pembukaan acara Talk Show : Mental Juara, Kita Punya!.

Hadir pada acara ini H. Mahyeldi Ansyarullah, SP Ketua DPP IKA FPUA yang merupakan alumni angkatan 86, praktisi pendidikan Prof.Dr.Ir. Musliar Kasim, MS alumni angkatan 78, dan beberapa alumni lainnya yang berkecimpung di dunia usaha.

Walikota Padang H. Mahyeldi Ansyarullah, SP mengatakan seorang petarung harus memiliki kesabaran yang merupakan kunci sebuah kesuksesan. Masyarakat Sumatera Barat memiliki jiwa nasionalisme kuat yang merupakan modal besar. Intinya Mahyeldi mengatakan bahwa mental juara harus memiliki semangat sebagai petarung, kesabaran untuk terus bekerja berbuat sehingga tujuan tercapai, memilki responsibility dan membangun silaturrahmi. 

Prof.Dr.Ir. Musliar Kasim, MS sebagai praktisi pendidikan mengatakan untuk menjadi juara tidak secara tiba-tiba tapi melalui perjalanan yang panjang. Jiwa petarung harus memilki kompetensi  seperti potensi pengetahuan (knowledge), potensi keterampilan (skill) dan memilki sikap (attitute) yang dibangun sejak dini. 

Disisi lain alumni Fajaruddin alumni angkatan 75 yang pernah menjabat Wakil Dinas Pariwisata Sumbar mengatakan bahwa keberhasilan seseorang adalah dapat melakukan interaksi dengan lintas ilmu atau pekerjaan.

 Sedangkan Dr.Ir. Yuzirwan Rasyid, MS dosen Fakultas Pertanian mengatakan bahwa mental juara dapat dimiliki seseorang apabila dia dengan kemampuannya dapat membaca situasi serta menempatkan diri dengan benar.

 Diskusi yang alot antar mahasiswa yang dimoderatori Prof.Dr.Ir. Helmi membawa pencerahan bagi mahasiswa Fakultas Pertanian yang memadati Convention Hall Universitas Andalas. 

Prof.Dr.Ir. Musliar Kasim mengatakan bahwa kunci sukses seseorang adalah berani dan bertanya. Dan jadikan kiprah disektor pertanian sebagai panggilan jiwa.

 

LN - Subag Akademik & Kemahasiswaan

19 April 2017 In Berita

Rabu, 19 April 2017 Forum Studi Dinamika Islam (FORSTUDI) Fakultas Pertanian Universitas Andalas mengangkatkan seminar nasional pertanian dalam rangkaian acara Agriculture Islamic Fair (AIF) yang merupakan acara Milad forstudi yang ke-26. Seminar nasional ini mengangkatkan tema “ Potensi Dan Hambatan Indonesia Menuju Swasembada Pangan” yang diadakan di Convention Hall Universitas Andalas. Seminar nasional ini menghadirkan dua narasumber yaitu bapak Dr. Ir. H. Anton Apriyantono, MS (Menteri Pertanian periode 2004-2009) dan bapak Ir. Effendi, MP (Kepala Badan Ketahanan Pangan Sumatera Barat). Acara ini juga dihadiri dan dibuka secara langsung oleh Walikota Padang, bapak Ir. Mahyeldi, SP.

Tema ini diangkatkan dengan dilandasi isu dibidang pertanian yang berkembang saat ini berkaitan dengan peningkatan swasembada pangan, yang harapannya bisa menjawab pertanyaan mendasar tentang ”bagaimana cara peningkatan swasembada pangan dilakukan serta bagaimana menghadapi impor dan sejauh mana impor dilakukan” seperti yang di sampaikan oleh moderator Rafnel Azhari SP, M.Si pada saat memulai acara.

Dr. Ir. H. Anton Apriyantono, MS, dalam penyampaiannya menjelaskan tentang ketahanan pangan berkelanjutan berbasis pangan lokal. Bahwa dalam menjalankan swasembada pangan bukan berarti kita sama sekali tidak menjalankan impor. Sebab persoalan swasembada pangan erat kaitannya dengan selera, sehingga terjadi keterbutuhan dan ketergantungan terhadap produk- produk yang tidak bisa dihasilkan sendiri dan harus terus menerus dipenuhi, yang tentu saja hanya dapat di penuhi melalui impor. Lebih lanjut Anton menjelaskan, bahwa swasembada pangan dapat dilakukan dengan penguatan pangan lokal. Adapun tantangan menuju swasembada pangan di Indonesia kedepannya ialah penduduk semakin bertambah serta jumlah lahan yang semakin menyusut. Strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahan pangan di Indonesia antara lain seperti : peningkatan produksi pangan, pengamanan hasil produksi pangan, diversifikasi pangan, pengembangan pangan olahan berbasis pangan lokal dan produk diversivikasi.

Sementara Ir. Effendi, MP selaku Kepala Badan Ketahanan Pangan Sumatera Barat, lebih banyak menjelaskan kondisi pangan di Sumatera Barat, secara umum ketersediaan pangan di Sumatera Barat, khususnya beras mengalami surplus, sementara dari segi konsumsi Sumatera Barat termasuk 6 daerah pengkonsumsi pangan terbesar di Indonesia. Namun demikian keadaan ini bukanlah sesuatu yang menggembirakan karena dengan perkembangan dan pertumbuhan penduduk yang terus menerus akan menimbulkan kerawanan pangan. Dengan angka konsumsi yang cukup besar tersebut, maka provinsi Sumatera Barat menargetkan pengurangan konsumsi beras untuk menjaga ketahanan pangan di Sumatera Barat. Menurut Effendi solusi yang tepat untuk mengatasi ketahanan pangan adalah diversifikasi pangan.

Seminar ini ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan kepada kedua Narasumber dan juga Moderator yang telah memandu jalannya seminar.

 

LN - Subag Akademik & Kemahasiswaan