Sejarah

Dari Payakumbuh ke, Jati Mangunsarkoro, Air Tawar dan Limau Manis

1. Pendahuluan

Keberadaan Fakultas Pertanian Universitas Andalas di Kampus Limau Manis Padang merupakan langkah ketiga dari perjalanan panjang yang dilalui sejak berdirinya Fakultas ini. Perpindahan dari satu lokasi ke lokasi lainnya mengikuti arus kondisi ke tatanegaraan dan kebutuhan perluasan serta perjuangan dari tokoh-tokoh Universitas Andalas dan dukungan semua pihak. Perjalanan panjang tersebut selalu diwarnai oleh suka dan dukanya. Awal pendirian sebagai Perguruan Tinggi Pertanian pertama di luar Jawa merupakan suatu realisasi pengisian kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa oleh tokoh-tokoh dan pemimpin nasional. Pada waktu itu perguruan ini sejajar dengan dua fakultas lainnya yaitu Fakulteit Pertanian Universiteit Gajah Mada di Yogyakarta dan Fakulteit Pertanian Universiteit Indonesia di Bogor. Sarana fisik dilengkapi sedemikian rupa sesuai kebutuhan sebuah perguruan tinggi, demikian juga tenaga-tenaga dosen di datangkan dari Jerman, Belanda, Jepang dan India. Suatu kebanggan tersendiri menyelubungi masyarakat Sumatera Tengah dan Sumatera terutama para mahasiswa pada angkatan-angkatan awal. Pada tahun 1956, berdirilah Universitas Andalas, yang terdiri dari beberapa fakultas, termasuk Perguruan Tinggi Pertanian Payakumbuh sebagai Fakultas Pertanian yang tetap berkedudukan di Payakumbuh, bersama Fakultas Kedokteran di Bukittinggi dan Ekonomi serta Hukum di Padang. Kebanggaan dan kegembiraan itu tidaklah berumur panjang, tahun 1958 terjadilah pergolakan daerah, sehingga tidak dimungkinkan perkuliahan dilanjutkan. Diputuskan waktu itu untuk memindahkan fakultas ini ke Padang dan sebagian besar dosen-dosennya telah menyelesaikan kontrak dan kembali ke negara masing-masing. Lokasi kampus di Padang terletak di jalan Mangunsarkoro sekarang sebelah Barat Lampu Merah Simpang Adabiah. Sekarang kawasan itu sudah dirubah menjadi komplek pertokoan. Masa-masa sulit di Padang diasuh oleh tenaga-tenaga muda di samping bimbingan dari Fakultas Pertanian Universitas Indonesia. Berkat kerja keras dan dukungan dari pemerintah pusat dan daerah serta tokoh-tokoh Sumatera Barat secara perlahan fakultas ini bangkit kembali. Pada saat itu mulai dibangun kampus baru di Airtawar, bersamaan untuk Fakultas Kedokteran dan FKIP Universitas Andalas. Perpindahan ke Airtawar membuka cakrawala baru, sedangkan komplek Jati digunakan untuk Laboratorium.  

Waktu berjalan terus jumlah mahasiswa meningkat, sehingga dirasakan fasilitas fisik di Airtawar sudah mulai sempit untuk dikembangkan, sehingga kebutuhan mendesak dilakukan dengan penambahan ruangan dan lokal dengan mengembangkan ruang kuliah ke kiri dan kanan teras. Keadaan ini sangat tidak memadai. Tahun 1975 mulailah dirintis pembangunan kampus baru di Ulu Gadut, pada lokasi perumahan dosen dan karyawan sekarang, disamping calon lainnya yaitu di Bukit Tambun Tulang Anai, dan Tanjungpati Payakumbuh. Akhirnya disetujui pinjaman dari World Bank Loan ke-IX dan APBN untuk pembangunan kampus Unand di Limau Manis.  Dibalik hal-hal yang menggembirakan ini, dijumpai pula beberapa kesulitan dan hambatan yang cukup serius. Bangunan fisik dan laboratorium yang cukup besar ini menghadapi kesulitan dalam pemeliharaan dan peningkatan mutunya, akibat keterbatasan anggaran. Demikian juga halnya dengan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat oleh dosen-dosen sangat tergantung anggaran yang sangat terbatas. Perkembangan anggaran negara 20% untuk pendidikan untuk menunjang perkembangan ke depan memberikan harapan, bila segenap sivitas akademika memberikan dukungan sepenuhnya. 

Sejalan dengan perkembangan fisik dan akademik, kealumnian Fakultas Pertanian juga mengalami perjalanan panjang yang maju mundur. Walaupun demikian pada tahun 1970 an sudah ada Ikatan Alumni Fakultas Pertanian (IKA FPUA). Demikian juga di daerah lain antaranya di Pekanbaru, Jambi dan Jakarta. 

2. Payakumbuh

Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang lahir sebagai Perguruan Tinggi Pertanian di Kota Payakumbuh, pada sebuah gedung yang terletak di jantung kota, tepatnya di jalan Soedirman No.8. Gedung ini dibangun pada tahun 1954, pada bekas tanah milik Nasir Sutan Pamuntjak, mantan Duta Besar Republik Indonesia di Filipina. Pembangunan gedung ini semula direncanakan untuk Medan Pertemuan / Gedung Nasional. Pada saat pekerjaan pembangunan ini dimulai, Pemerintah Indonesia / Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, telah merencanakan pula, untuk mendirikan Perguruan Tinggi Pertanian di Payakumbuh. Untuk mewujudkan Perguruan Tinggi Pertanian tersebut, pemerintah menyerahkan persiapan untuk pembukaannya kepada Saudara Zainuddin Sutan Keradjaan, Koordinator Inspeksi Pengajaran Daerah Propinsi Sumatera Tengah. Di tingkat Kabupaten dikoordinir oleh Bupati Limapuluh Kota, yang pada waktu itu dijabat oleh H. Darwis Dt. Toemanggung. Beliau membentuk Panitia Penampung Fakulteit Pertanian, yang terdiri dari pemuka masyarakat, partai politik serta instansi terkait. Pemerintah dan Panitia Penampung Fakulteit Pertanian, memutuskan merubah rencana Pembangunan Gedung Medan Pertemuan / Gedung Nasional, menjadi Gedung Perguruan Tinggi Pertanian. Gedung ini sekaligus dipergunakan untuk peresmian Pembukaan Perguruan Tinggi Pertanian di Kota Payakumbuh pada Hari Selasa tanggal 30 Nopember 1954. Selanjutnya gedung ini dipakai sebagai gedung perkuliahan dan Laboratorium Biologi. Pada hari peresmian tersebut Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Mr. Muhammad Yamin menyampaikan “Pidato Pembukaan Perguruan Tinggi Pertanian di kota Payakumbuh” (Pidato Pembukaan terlampir) di hadapan para undangan dari tingkat nasional, tingkat propinsi (Sumatera Tengah), tingkat Kabupaten dan mahasiswa. Di akhir pidatonya, mempersilahkan PJM. Wakil Presiden R.I. Drs. Mohd. Hatta meresmikan pembukaan Perguruan Tinggi Pertanian ketiga di Republik Indonesia, di Kota Payakumbuh setelah Fakulteit Pertanian Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada. Pada bulan-bulan pertama sesudah pembukaan, perkuliahan agak seret, karena terbatasnya staf pengajar yang ada pada waktu itu. Tetapi mulai pertengahan tahun 1955, setelah staf pengajar yang umumnya terdiri dari bangsa asing mulai berdatangan perkuliahan berlangsung lancar, sampai tahun 1958, perkuliahan dan praktikum mahasiswa terlaksana dengan baik. Pada bulan Mei 1958, sebagian mahasiswa telah dapat menyelesaikan studinya pada tingkat Propaedeus / Persiapan (PII). Pada tanggal 13 September 1956 dengan dorongan dan dukungan kuat dari Wakil Presiden Muhammad Hatta dan tokoh-tokoh Nasional yang sebagian besar berasal dari Sumatera Barat berdirilah Universitas Andalas. Universitas ini menghimpun beberapa Perguruan Tinggi yang pada mulanya berdiri sendiri menjadi fakultas-fakultas. Lokasi dari fakultas yang ada menjadi berpencar-pencar pada berbagai kota. Fakultas Pertanian di Payakumbuh, Fakultas Hukum dan Ekonomi di Padang dan Kedokteran di Padang, Fakultas Pendidikan Guru di Batusangkar. Sebenarnya sebelum itu Fakultas Kedokteran di bangun di Baso Kabupaten Agam 16 km dari pusat Kota Bukittinggi sebagai Ibu Kota Propinsi Sumatera Tengah. Amat disayangkan bangunan tersebut hancur sebelum sempat selesai akibat pergolakan daerah. Dewasa ini masih dapat dilihat lokasi puing-puing bangunan Fakultas Kedokteran tersebut. Sekarang dibangun ditempat itu antara lain Kantor Camat Baso, Kantor Sektor Polisi Baso, SMP, Diklat Regional Kementerian Dalam Negeri, Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Balai Kesehatan Hewan, dan lainnya.  

Terjadinya pergolakan daerah pada tahun 1958 tersebut dan terganggunya keamanan di daerah ini, merupakan hambatan bagi kelanjutan pendidikan di Perguruan Tinggi Pertanian. Dekan Fakultas Pertanian yang dijabat oleh Prof. Drs. Mohd. Idris (ayah dari Letjen Kemal Idris) diungsikan keluar kota, dan Fakultas Pertanian dipimpin oleh wakil Dekan Prof. Ir. P.A. Blijdorp. Pada saat itu masa kontrak kerja staf pengajar asing, banyak yang berakhir dan mereka kembali ke negara masing-masing. Pada tangal 4 Mei 1959, ditandatangani “Berita Acara Serah Terima No. 262/D-4/59” antara wakil Dekan Prof. Ir. P. A. Blijdorp kepada dr. Roemawi yang ditunjuk oleh ketua Presidium Universitas Andalas di Padang yang pada waktu itu dijabat oleh Prof. dr. Roesma. Selanjutnya dengan dalih keadaan yang belum pulih, Fakultas Pertanian di pindahkan ke Padang, dan bertempat di Jalan Jati (Jln. Mangunsakoro yang sekarang sudah menjadi pertokoan. Di Payakumbuh tinggal beberapa orang pegawai yang mengurus semua aset milik Fakultas Pertanian, antara lain adalah Saudara Munir D.  

Pada tanggal 27 Juni 1960, Panglima Daerah Militer III/17 Agustus Kolonel Inf. Soerjosoempeno, mengeluarkan Surat Perintah No. SP-608/6/1960 supaya PDM (Perwira Distrik Militer) Payakumbuh dan KA ZI DAM III/17 Agustus, untuk menguasai seluruh bangunan milik Fakultas Pertanian di Komplek Gelanggang dan Padang Tiakar Payakumbuh, dengan dasar belum cukupnya akomodasi guna menampung penempatan Jon Infanteri. Tetapi dalam pelaksanaannya, tidak saja rumah dalam kompleks Gelanggang dan Padang Tiakar tersebut yang dikuasai, juga gedung bangunan kuliah yang terletak di pusat kota, dipergunakan untuk penempatan parajurit APRI. Di akhir tahun 1962 atas usaha Dekan Fakultas Pertanian Universitas Andalas Prof. Dr. Oei Hong Peng, gedung kuliah tersebut dikembalikan dan dipakai sebagai Kantor Cabang Fakultas Pertanian Payakumbuh. Lain halnya dengan perumahan mahasiswa dan perumahan dosen tetap dikuasai oleh militer pada waktu itu. Beberapa tahun kemudian satu diantara 5 rumah dosen dikembalikan ke fakultas Pertanian dan dimanfaatkan untuk Mess Dosen. Sebanyak 10 buah rumah mahasiswa tidak kunjung dikembalikan sehingga sekarang masih dikuasai oleh keturunan militer yang pernah menguasainya. 

 ada tahun 1962 itu pula, sebanyak 10 orang mahasiswa telah menyelesaikan studinya pada tingkat Kandidat (K II). Berhubung di Padang tidak terdapat lahan sebagai kebun percobaan untuk praktek dan penelitian, mereka ditugaskan untuk melanjutkan studi dan menyelesaikannya di Payakumbuh.  

Mereka yang ditugaskan ke Payakumbuh adalah: 

(1). Syafri Syafei (alm), (2). Sofjan Asnawi (alm), (3). Syahrial Idris, (4). Darwis S.N, (5). Nitza Arbi, (alm) (6). Joesoef B,(alm) (7). Ismael Nur, (8). Basjir Rajab, (alm) (9). Zubaidah Hitam, (10). Zeifil Rezak (alm). Pada tahun 1962 itu pula beberapa orang staf pengajar muda juga ditugaskan pula ke Payakumbuh, masing-masing adalah: (1). Ir. Nyo Hong Ham (sebagai Kepala), (2). Ir. Nasrun Hamid, (3). Ir. Moerdif Baas.  

Bersamaan dengan pengiriman mahasiswa dan staf pengajar muda ke Payakumbuh, Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan R.I, telah menyerahkan pula 3 (tiga) traktor Massey Ferguson 35 PK untuk pendidikan pada Fakultas Pertanian yang ditempatkan di Payakumbuh. Dua buah diantara rongsokan traktor itu masih ada di kebun Percobaan Fakultas pertanian Limau Manis.  

Sejak tahun 1962 tersebut Payakumbuh dimanfaatkan kembali, sehingga suasana kampus secara berangsur-angsur pulih berkat adanya kegiatan mahasiswa. Dalam pengembangan Perguruan Tinggi Pertanian Payakumbuh, sebenarnya sebelum terjadinya pergolakan daerah, atas prakarsa Prof.Dr.W.Meijer, telah dirintis pula lokasi studi botani yang berlokasi di lereng gunung Sago sekitar Padang Mengatas yang dipinjam dari Jawatan Kehutanan. Kemudian dengan adanya penyerahan tanah oleh masyarakat kenegarian Sikabu-kabu / Padangpanjang, lokasi tersebut dipindahlan ke Padang Datar. Luas tanah tersebut sekitar 40 Ha. Lokasi ini sangat sesuai dalam pengembangan studi tanaman dataran tinggi karena terletak di lereng gunung Sago pada ketinggian lebih dari 1.000 meter dari permukaan laut. Sebagai lanjutan dari langkah ini, pada tanggal 26 Maret 1956 ditanda tanganilah piagam kerjasama antara Fakultas Pertanian dengan Pemerintah Daerah Kabupaten 50 Kota dan Nagari Sikabu-Kabu serta Nagari Padangpanjang menyangkut pembinaan desa tersebut. Pembinaan pada kedua Nagari tersebut terputus beberapa tahun pada saat terjadinya pergolakan daerah tersebut. Kemudian pada tahun 1963 dan tahun berikutnya beberapa mahasiswa melakukan percobaan beberapa jenis tanaman pada lokasi tersebut antara lain Nitza Arbi dan Darwis SN. Setelah itu lahan di Sikabu-kabu akibat keterbatasan potensi yang ada, tidak mampu lagi dikelola.  Ada waktu Dekan Fakultas Pertanian dijabat oleh Prof.Dr.Ir.Jurnalis Kamil, MSc. Tahun 1974 – 1978 beberapa upaya telah dilakukan untuk memanfaatkan tanah di Sikabu-kabu ini, bersamasama dengan ninik mamak setempat, namun akibat keterbatasan pendanaan mengakibatkan program ini tidak kunjung terealisasi.  

Dari prakarsa beberapa alumni antara lain Ir.Syakdin Darminta, Dr.Ir.Darwis SN, Ir.Syuhinar Bustami, MSc., Ir.Alidinar Nurdin, MS, Yusaf Rahman, Ismael Dt.Rajo Imbang , Ir. Yusrizal M Zen, MS, yang didukung oleh alumni lain dan Dekan di jabat oleh Dr.Ir.Rahmat Syahni, MSc. tahun 2001 telah dijajaki kemungkinan pemanfaatan tanah di Sikabu-kabu ini kembali. Beberapa upaya telah dilakukan, dan ternyata tetap memperoleh pengakuan dari Wali Nagari serta ninik mamak setempat. Akibat keterbatasan kemampuan, maka tanah tersebut tetap belum termanfaatkan.  

Kemudian pada tanggal 23 Juni 1962, ninik mamak kanagarian Sarilamak dan kenagarian Batu Balang, Kecamatan Harau, Kabupaten 50 Kota, menyerahkan 130 Ha tanah, yang setelah diukur oleh kantor Agraria Tingkat I Sumatera Barat, luasnya 94 Ha, untuk pembangunan Fakultas Pertanian. Lahan tersebut, berupa semak belukar tinggi, sarang harimau, babi dan binatang liar lainnya. Adanya mahasiswa dan staf pengajar muda, serta peralatan traktor, di samping studi dan penelitian, mahasiswa dan staf pengajar berusaha pula membuka lahan dari kebun percobaan dan lahan penyerahan ninik mamak Nagari Sarilamak dan Batu Balang tersebut.  

Pembukaan lahan di Tanjung Pati dilanjutkan (lahan dari Nagari Sarilamak dan Nagari Batu Balang) yang diusahakan bersama masyarakat setempat dengan tujuan menghindari gangguan binatang buas (harimau), serta melindungi usaha pertanian mereka dari hama babi hutan dan lain sebagainya. 

Tuntutan pendidikan tinggi professional yang semakin meningkat, maka lahan Fakultas Pertanian di Sarilamak (Tanjungpati) ini dijadikan seluas 30 Ha untuk kampus Politani Negeri Payakumbuh tahun 1990. Berarti masih ada sisa lahan 64 Ha lagi yang sudah mulai ditanami dan dihuni secara liar oleh penduduk sekitarnya.  

Pada tahun 1964, Fakultas Pertanian telah menghasilkan 4 orang Insinyur Pertanian yang berasal dari kandidat II tahun 1962. Sampai awal tahun 1966, sebanyak 9 orang dari 10 mahasiswa yang dikirim pada tahun 1962 tersebut untuk studi dan penelitian ke Payakumbuh, telah menyelesaikan studinya di Fakultas Pertanian Universitas Andalas.  

Di kebun percobaan yang terletak di sebelah Barat lapangan pacuan kuda Kubu Gadang, penelitian-penelitian tetap dilanjutkan. Pada saat-saat pemerintah Indonesia menggiatkan usaha peningkatan produksi pangan, kebun percobaan ini telah membuat kejutan dalam penelitian / pengujian varietas padi unggul, baik padi unggul lokal, unggul nasional dan maupun unggul internasional. Percobaan padi varietas IR-5 atau PB-5 yang pertama di Sumatera Barat, memperlihatkan hasil yang jauh melebihi dari hasil yang pernah dicapai pada percobaanpercobaan lain, yaitu 8,24 ton/Ha. Hal ini telah membuat berita besar pada media massa di Sumatera Barat dan daerah lainnya di Indonesia., bahkan BBC London pun ikut memberitakan hasil percobaan ini keseluruh dunia. Kepala Dinas Pertanian Rakyat Tingkat I Sumatera Barat telah memanfaatkan bibit hasil percobaan ini untuk disebarluaskan di daerah Sumatera Barat. 

Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan, baik dibidang pendidikan, penelitian dibidang teknologi bercocok tanam serta pengerahan tenaga mahasiswa Fakultas Pertanian di berbagai daerah dalam usaha peningkatan produksi pangan dan pembukaan lahan yang cukup luas, telah merangsang masyarakat di Payakumbuh, menuntut pengembalian Fakultas Pertanian ke Payakumbuh. Aspirasi masyarakat ini telah disalurkan melalui Musyawarah Besar Kerapatan Adat Alam Minangkabau, Kabupaten 50 Kota di Payakumbuh, pada tahun 1968.   

Aspirasi masyarakat ini telah ditanggapi oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Andalas, dengan mengirim mahasiswa di tingkat terakhir untuk berkuliah di Payakumbuh. Gedung kuliah, yang dulu dipakai sebagai kantor Cabang Fakultas Pertanian kembali berfungsi sebagai tempat kuliah mahasiswa.  

Pada tahun 1969, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I yang dijabat oleh Mashuri SH, bersama Rektor Unand dr. Boesjra Zahir, Rektor IKIP Padang Prof. Dr. Isrin Noerdin, Badan Pemerintahan Harian (BPH) Daerah Tingkat I Sumatera Barat, Agus Thaib, SH serta beberapa orang perwira Militer dari Kodam III/17 Agustus, mengunjungi Payakumbuh untuk menjajaki kemungkinan pengembalian aset Fakultas Pertanian yang dikuasai oleh unsur-unsur Kodam III/17 Agustus. Hal ini tercermin dalam Surat Jawaban Rektor Universitas Andalas No. A-426. Rek. XII tanggal 12 Februari, yang dialamatkan kepada Panglima Kodam III/17 Agustus. Tetapi usaha ini belum berhasil.  

Adanya berbagai hambatan, baik di bidang pendanaan, perumahan untuk staf pengajar menginap dan sebagainya, menyebabkan terhentinya pengiriman mahasiswa secara bertahap ke Payakumbuh. Selain itu tidak tersedianya dana bagi perbaikan traktor yang mulai mengalami kerusakan, kegiatan pembukaan lahan, baik di Tanjung Pati, maupun di Sikabu-kabu juga terhenti.  

Pada tanggal 17 Desember 1970, status kota Payakumbuh, berubah menjadi Daerah Tingkat II Kotamadya Payakumbuh. Sarana gedung yang belum tersedia bagi pelaksanaan pemerintahan, maka Walikota Payakumbuh yang dijabat oleh Soetan Oesman, melalui Rektor Universitas Andalas Drs. Mawardi Yunus meminjam gedung kuliah yang dimaksud di atas untuk dipakai sebagai Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kotamadya Payakumbuh. Hal ini berlangsung sampai tahun 1976.   

Setelah gedung tersebut dikembalikan kepada Fakultas Pertanian, status Cabang Fakultas Pertanian Payakumbuh, berubah menjadi Stasiun Penelitian Fakultas Pertanian Universitas Andalas Payakumbuh, yang membuka kantor pada ruang sisi kanan gedung kuliah tersebut. Pada tahun-tahun berikutnya, karena ketiadaan biaya dan kurangnya kepedulian terhadap keadaan gedung tersebut, pada malam hari, gedung ini berfungsi sebagai tempat menginap preman dari terminal bus yang terletak di depannya. Hal ini berlangsung sampai awal tahun 1982. 

Pada akhir tahun 1982 dan awal tahun 1983 dicoba membenahi gedung ini sedikit demi sedikit dengan dana yang dihasilkan dari kebun percobaan dan kontribusi dari bengkel mekanisasi yang terletak di kompleks perumahan di Labuh Basilang. Kantor Stasiun Penelitian dipindahkan kebagian depan, pintu-pintu yang telah rusak diperbaiki, pekarangan dipagar dan ruangan kerja di bagian dalam dibenahi, jam kerja pegawai diatur menurut ketentuan yang berlaku. Untuk kesejahteraan pegawai, administrasi koperasi pegawai negeri yang berbadan hukum ditata kembali. Secara berangsur pembenahan gedung ini sebagai Kantor dan Laboratorium sudah memadai.  

Sekalipun mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Andalas makin jarang berpraktek di Payakumbuh, adanya laboratorium yang memadai telah dapat membantu praktikum-praktikum dari Fakultas Pertanian Swasta Tertua di Sumatera Barat, yaitu Fakultas Pertanian Universitas Muhamadiah Sumatera Barat di Payakumbuh. 

Kegiatan selanjutnya di Stasiun Penelitian tidak terbatas hanya dalam gedung, tetapi juga dilapangan dalam menyelesaikan masalah tanah milik Fakultas Pertanian Unand di Payakumbuh. Pada tahun 1982 telah dapat diselesaikan Sertifikat tanah yang terletak di Labuh Basilang, dan pada tahun 1985 dengan memegang Surat Kuasa Rektor No. 2755/PT.19.0/F-1985 telah diusahakan persertifikatan tanah-tanah lain, baik dalam Kotamadya, maupun sebagian dari tanahtanah di Kabupaten 50 Kota.  

Pembangunan Politeknik Pertanian Unand di Tanjung Pati juga tidak terlepas dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam gedung tua yang sederhana ini. Ternyata kamar-kamar pada bagian belakang gedung telah banyak memberikan manfaat untuk menampung sementara dosendosen Politani tersebut.  

Namun akibat berbagai hambatan, pengembalian secara penuh penyelenggaraan pendidikan tinggi Fakultas Pertanian di Payakumbuh hanya tinggal harapan bagi masyarakat Payakumbuh. Apalagi pada tahun 1995 Fakultas Pertanian Unand telah menempati kampus baru di Limau Manis. Akhirnya sebagai kata pepatah: ”Hidup ini sebagai roda pedati, sekali di atas dan sekali di bawah” pun dialami oleh gedung tua Perguruan Tinggi Pertanian, yang telah mempelopori berdirinya perguruan tinggi lain diluar pulau Jawa, khususnya di Sumatera. 

Di lain sisi patut dicatat, bahwa kontribusi gedung-gedung dan asset Payakumbuh ini dalam pembangunan sumber daya manusia, ilmu pertanian khususnya, telah dirasakan. Tokoh-tokoh dan pelopor peningkatan produksi pertanian sejak dekade tahun tujuh puluhan tersebar di seantaro tanah air, diwarnai oleh alumni yang pernah memperoleh tempaan Payakumbuh.   

Pada saat Fakultas Pertanian Unand ini telah berumur hampir 50 tahun gedung pusat kegiatan di Jalan Sudirman No. 8 Payakumbuh ini pada beberapa bagian sudah usang dan lapuk. Sehubungan dengan itu, atas prakarsa beberapa alumni Fakultas Pertanian, dan berkenaan dengan peringatan 100 tahun Bung Hatta, dilakukan renovasi gedung tersebut. Bentuk aslinya tetap dipertahankan dengan mengganti bagian-bagian yang sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Penggantian ini antara lain adalah atap, loteng, lantai keramik dan pintu. Sementara dinding dan jendela masih tetap dipertahankan sebagaimana bentuk aslinya.   

Sebagai tahap awal renovasi, dititik beratkan pada gedung utama, sedangkan pada bagian belakang serta bak air dan fasilitas lainnya masih belum dijamah. Perencanaan renovasi gedung ini telah dimulai sejak pertemuan pertama Dekan Fakultas Pertanian Unand (Dr.Rahmat Syahni, Z. MSc.) dengan 2 orang alumni Fakultas Pertanian angkatan Payakumbuh yaitu Ir. Sjakdin Darminta dan Ir. Alidinar Nurdin, MS pada tanggal 28 Oktober 2001. Peran aktif dari beberapa alumni antara lain Ir.Syuhinar Bustami, MSc. Dan Ir. Yusrizal M Zen telah memberikan percepatan terhadap upaya-upaya renovasi ini. Setelah kesepakatan dicapai pada tanggal 30 Oktober 2001, dilakukan persiapan-persiapan untuk pelaksanaan rencana tersebut. Akhirnya, pada tanggal 22 April 2002, dimulailah pekerjaan renovasi dengan bantuan biaya pertama oleh alumni-alumni Fakultas Pertanian. Pembiayaan berikutnya dibantu oleh Rektor Universitas Andalas, Walikota Payakumbuh, Bupati Kabupaten 50 Kota, dan PT. Semen Padang, Gubernur Propinsi Sumatera Barat.   

Sesuai dengan anggaran yang tersedia, saat ini renovasi bangunan utama telah mencapai penyelesaian tahap I. Peresmian selesainya renovasi gedung Tahap I tersebut dilakukan tanggal 9 Agustus 2001 dilakukan sebagai rangkaian perayaan 100 tahun kelahiran Bung Hatta, yang dipusatkan di kota Bukittinggi. Khusus pada tanggal 9 Agustus 2002 diadakan perayaan tersendiri oleh Fakultas Pertanian bersama keluarga Bung Hatta yang dihadiri oleh Ibu Halida Hatta, beserta seorang putranya, alumni dari Medan dan Jakarta serta Pekanbaru, tokoh masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Peresmian renovasi dilakukan oleh Gubernur Sumatera Barat Zainal Bakar dan dihadiri juga oleh Wagub Sumbar Prof.Dr.Ir. Fachri Ahmad, MSc.  

Pada tanggal 30 Nopember 1954 selubung peresmian dan papan nama Perguruan Tinggi Pertanian Payakumbuh, dibuka oleh Ibu Rahmi Hatta. Pada saat peresmian renovasi Gedung tersebut diperlihatkan dan dijelaskan dalam pidato pembukaan kepada putri dan cucu beliau. Pada hari yang bersejarah tersebut, masyarakat Kota Payakumbuh memberikan koleksi kenangan berupa foto-foto Bung Hatta dengan Ibu Rahmi kepada Ibu Halida dan putranya. Ternyata fotofoto tersebut belum ada dalam koleksi keluarga Bung Hatta sebelumnya. Pada perayaan hari itu sekaligus diresmikan pemanfaatan gedung hasil renovasi menjadi Pusat Pengembangan Gambir (Gambir Development Center) disingkat GDC. Diharapkan GDC nantinya dapat berkiprah merealisasikan berbagai aktivitas pengembangan dari komoditas unggulan Sumataera Barat ini. Aktivitas GDC yang direncanakan adalah mulai dari penelitian, pendidikan, pelatihan, seminar, dan lokakarya sampai kepada kegiatan pelayanan informasi dan teknologi yang berkaitan dengan komoditas gambir.   

Gambir adalah sebagai komoditas andalan konvensional Sumatera Barat yang diusahakan oleh petani turun-temurun sejak abad ke-18. Kabupaten 50 Kota, dan Pesisir Selatan adalah dua sentra produksi utama dan Payakumbuh sebagai pusat perdagangan gambir sampai sekarang di samping Siguntur. Amat disayangkan, lembaga ini tidak bertahan lama. Akibat kurangnya koordinasi, akhirnya GDC tidak berfungsi lagi.  

Bila diinventarisasi aset Fakultas Pertanian di kota Payakumbuh cukup berpotensi antara lain adalah :

  1. Komplek perumahan yang terdiri dari 14 bangunan diantaranya rumah tempat tinggal. Tanah ini seluas 82.060 m2 sesuai dengan surat ukur No. 486/1983 dengan sertifikat No. 7694624 dari Kantor Agraria Payakumbuh. 
  2. Di samping itu ada lagi tanah perumahan di Labuh Basilang. Tanah ini telah dibeli tahun 1957 dengan sertifikat No.8281166 dengan luas 9.390 m2. Tanah ini ditempati oleh 4 rumah. 
  3. Tanah bekas asrama mahasiswa, terletak di Gelanggang pacuan kuda Kubu Gadang Payakumbuh. Pada tanah ini masih ada 7 rumah bekas asrama mahasiswa. Sampai sekarang masih di kuasai oleh keluarga TNI. Luas tanah ini meliputi 2.010 m2 dengan sertifikat No. 7694625.
  4. Tanah Komplek Laboratorium, dengan luas 50.000 m2. Tanah ini masih dikuasai oleh TNI.
  5. Tanah lokasi bangunan perkuliahan. Pada tanah ini berdiri gedung yang telah selesai direnovasi sekarang. Sertifikat No.76944626 seluas 1.541 m2. Tepatnya beralamat di Jalan Sudirman No. 8 Payakumbuh.
  6. Tanah lokasi bekas Tata Usaha. Berada pada sudut persimpangan Jalan Siti Manggopoh dan Jalan Sudirman. Luas tanah 1.000 m2. Dewasa ini sebagian gedung ini dipinjam oleh pemerintah kota Payakumbuh, dan belum dikembalikan. Terakhir gedung ini diambil pihak lain yang belum tuntas secara hukum.  

Dari uraian singkat di atas rasa optimis kembali lahir setelah adanya stimulasi dari alumni dan pemerintah daerah serta Universitas Andalas untuk melihat ke depan. Pada tahun-tahun 2004 dibangunlah ruang-ruang kuliah baru di Lahan Gelanggang. Kerja sama Universitas Andalas dengan pemerintah Kota Payakumbuh, telah mendukung penyelenggaraan pendidikan Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Andalas. Kampus ini sekarang lebih dikenal dengan Kampus II Universitas Andalas. 

Pada tempatnyalah monumen gedung tua yang telah berumur hampir 63 tahun tersebut beserta aset pendukung lainnya di Payakumbuh baik di Labuh Bersilang dan Gelanggang dipelihara untuk dimanfaatkan untuk Kejayaan Bangsa, sesuai dengan harapan Mr.Muhammad Yamin pada 63 tahun lalu. Momentum peremian Perguruan Tinggi Pertanian Payakumbuh terkait kuat dengan dua orang Mahaputra Minangkabau yaitu Drs.Muhammad Hatta sebagai Wakil Presiden RI waktu itu dan Prof.Muhammad Yamin, SH sebagai Menteri Pendidikan dan Pengajaran Dan Kebudayaan saat itu.  

3. Air Tawar - Padang

Perpindahan ke Padang, diawali dengan kampus di Jln. Mangunsarkoro Jati Padang. Pada lahan yang sangat sempit itu dilakukan perkuliahan dan praktikum sementara menunggu pembangunan Airtawar selesai. Tahun 1958, dosen-dosen asing telah mengakhiri kontraknya dan mereka kembali ke negara asalnya. Dosen yang berasal dari warganegara Indonesia ikut menyingkir keluar kota sehingga praktis Payakumbuh lumpuh. Saat itu diboyonglah alat-alat yang masih ada dari Payakumbuh ke Jati di Padang. Setelah Gedung di Airtawar selesai dipindah pula ke gedung baru di Airtawar. Fakultas menempati bangunan paling Utara (sekarang digunakan oleh Uiversitas Negeri Padang).  

Perkuliahan dilakukan di Airtawar, dan sebagian praktikum dilaksanakan di Jln. Mangunsarkoro. Sebagian besar dosen-dosen didatangkan dari Fakultas Pertanian Universitas Indonesia (IPB Bogor sekarang). Kondisi kampus Airtawar pada waktu itu, dikelilingi oleh kawasan perladangan dan pengembalaan penduduk. Tahun 1960 sampai tahun 1965 kegiatan akademik berlangsung seadanya akibat keterbatasan dosen, laboratorium, ruang kuliah dan perpustakaan. Tahun 1965 saat Rektor Universitas Andalas pada waktu itu Drs.Harun Zain, melakukan upaya dan bekerja keras mengembalikan harga diri mahasiswa yang baru saja porak poranda setelah krisis pergolakan daerah. Selanjutnya Harun Zain dipercaya oleh pemerintah pusat menjadi Gubernur Sumatera Barat. 

Bersamaan dengan lanjutan pembangunan fisik waktu itu dipanggillah putra-putri Sumatera Barat yang menamatkan studinya di Jawa untuk pulang kampung. Untuk Fakultas Pertanian muncullah tiga remaja yaitu Ir.Jurnalis Kamil, Ir.Djafaruddin, dan Drh.Thamrin Nurdin, kemudian disusul oleh Ir.Murdif Baas, Ir.Firdaus Rivai. Pada tingkat Universitas Gubernur Harun Zain memanggil pula pemuda-pemuda lainnya yang sudah mulai berpengalaman di Jawa antara lain : dr.Busjra Zahir, Ir. Isjrin Nurdin, Drs. Adrin Kahar dan Drs.Rustian Kamaluddin. Tenaga-tenaga muda inilah yang bekerja keras menyusun pola penyelenggaraan pendidikan tinggi kembali, berdasarkan pengalamannya pada Universitas di Jawa. Beberapa orang di antaranya dapat melanjutkan studi ke luar negeri dalam upaya meningkatkan mutu dosen-dosen. 

Bantuan fisik laboratorium pertama diperoleh tahun 1971 dari Australia, saat itu Dekan adalah Ir.Firdaus Rivai, MSc. Baru saat itulah Ruang kuliah dan Laboratorium dialiri listrik, setapak demi setapak fisik fakultas dengan dana terbatas dapat dikembangkan. Demikian pula semakin banyak tenaga dosen yang memperoleh kesempatan studi lanjut. Untuk pertama kalinya lulus program PhD (S3) dari Missisippi University Ir. Jurnalis Kamil, MSc. PhD dengan keahlian Teknologi Benih, sebagai orang pertama di Indonesia. Selanjutnya menyusul Drs.Thamrin Nurdin, MSc.PhD dari Hawaii University dengan keahlian Ekonomi Pertanian. Secara beruntun pulanglah master dan doktor dari studi lanjut. Tercatat pada tahun 1974 buat pertama kalinya Fakultas Pertanian Universitas Andalas menggelar seminar nasional, dengan dukungan Direktorat Jenderal Perkebunan. Komoditas unggulan Sumatera Barat yaitu Cassia vera diangkat ke permukaan, dibahas dari berbagai aspek baik budidaya dan perdagangan serta pengolahan.  

 Potensi dosen yang semakin kuat telah mengangkat nama Fakultas ini ke permukaan dan mulai dikenal secara nasional. Berturut-turut diberikan kepercayaan untuk melakukan studi dan penelitian oleh Pemerintah Pusat dan Daerah antara lain ditahun-tahun awal adalah studi kapabilitas tanah antara lain : 

  1. Tahun 1975 Studi Kapabilitas Tanah di Siak. 
  2. Tahun 1976 – 1980 konsultan untuk pengembangan wilayah sepanjang lintas Sumatera dengan konsulta International IUTP (Indonesian – United Kingdom Transmigration Project). 
  3. Studi Kapabilitas tanah Silaut tahun 1980, dan 1981, seterusnya Teluk Kiambang Riau, Rimbo Panjang dan Rawa Kualu Riau, Nilo Langgam dan Bancah Kuning Riau serta Nilo Langgam Riau. 
  4. Studi lainnya seperti kapabilitas tanah untuk perkebunan, kebun percobaan lembaga resmi pemerintahan dan swasta. 
  5. Evaluasi projek-proyek pemerintah, seperti evaluasi Bimas tahun 1980, evaluasi program penghijauan tahun 1981, serta evaluasi Proyek PRPTE tahun 1983. 
  6. Studi Pengembangan Wilayah dan Komoditas seperti buah-buahan dan perkebunan senantiasa diserahkan pada fakultas Pertanian. 

 

Selanjutnya pada tahun 1990an dan seterusnya berbagai aspek Studi dan penelitian sudah berlanjut dan berkembang diberikan kepercayaan kepada Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang dari berbagai instansi pusat dan daerah serta swasta. Pengelompokan Fakultas Pertanian dalam Badan Kerja Sama Wilayah Barat untuk ilmu-ilmu pertanian memberikan manfaat yang sangat besar. BKS Wilayah B Ilmu Pertanian ini telah menghasilkan dalam penyusunan kurikulum, buku ajar dan kegiatan-kegiatan lainnya. Sampai sekarang BKS B ini masih dilanjutkan sebagai satu forum untuk tukar menukar informasi.  

Pada bulan Juni tahun 1979 terjadilah suatu perubahan yang sangat besar dalam pola administrasi pendidikan di Indonesia. Perubahan tersebut adalah era memasuki Sistem Kredit Semester (SKS). Berbekal potensi sumberdaya yang masih terbatas, tahun 1980 Fakultas Pertanian mempelopori pemberlakuan pola SKS ini yang diterapkan dengan segala hambatan-hambatannya. Pada waktu itu dekan adalah Ir.Fachri Ahmad. 

Pada saat perencanan pemberlakuan SKS tersebut akibat keterbatasan, maka konsep penjabaran kurikulum berdasarkan SK No. 125.U/1979 dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut disusun oleh dua orang dosen yunior yang belum pernah melalui pendidikan SKS. Namun berkat dukungan Dekan waktu itu Prof.Dr.Ir.Fachri Ahmad, MSc. serta bimbingan Ir.Firdaus Rivai, MSc. dan Prof.Dr.Ir.Jurnalis Kamil, akhirnya konsep itu disetujui senat fakultas dan Rektor Unand. Mulai bulan januari 1980 diterapkan kepada mahasiswa. Tercatat bahwa Fakultas Pertanian adalah yang pertama sekali menerapkan sistem ini kepada mahasiswa di lingkungan Unand.   

Pada tahun 1982, oleh Dekan waktu itu Prof.Dr. Jurnalis Kamil, MSc. menugaskan salah seorang dosen yunior yang belum pernah mengikuti studi lanjut S2 untuk menyusun program pendirian dan penyelenggaraan pendidkan Strata 2 untuk Program studi Agronomi. Tugas itu harus diselesaikan dalam waktu 3 hari. Berbekal dengan Buku Panduan S2 IPB Bogor dan UGM maka konsep itu dapat selesai dalam 2 hari dan pada hari ketiga diketik dengan mesin tik tua diatas sheet stensil. Akhirnya Proposal Program S2 Fakultas Petanian itu dapat dibawa Dekan ke Bogor bulan Februari tahun 1982, dijilid spiral dengan kertas buffalo 120 gram warna kuning.  

Dalam perjalanan panjang akhirnya Program S2 Fakultas Pertanian Unand tersebut lahir dalam bentuk Kegiatan Pengumpulan Kredit (KPK-IPB UNAND) mulai September tahun 1984 setelah menempuh proses sekitar 2 tahun. Pembukaan selubung papan nama dilakukan oleh oleh Prof.Dr.Ir. Andi Hakim Nasution, pada gedung Laboratorium dipinggir Selatan, bekas gudang. Mahasiswa angkatan pertama waktu itu bergotong royong membersihkan lantai yang sangat kotor antara lain Ir.Zubaidah Hitam, Ir.Darmijati dan lainnya.   

Peran aktif alm. Dr.Ir. Gazali Ismal, MS, (alm) Dr.Ir.Nurhajati Hakim, dan Ir.Asril Samad, (alm) cukup besar dalam menjajaki dan mempersiapkan kelahiran Program S2 ini. Ketiga dosen tersebut waktu itu sedang melanjutkan studi S3 di IPB. Dukungan moral yang penuh dari pihak IPB mendorong dosen-dosen tersebut agar kelak setelah tamat akan mengembangkan Pendidikan Pascasarjana di Unand.  

Berikutnya kontribusi untuk kelahiran KPK IPB UNAND yang terbesar adalah dari Prof.Dr.Ir. Andi Hakim Nasution Rektor IPB Bogor, dan Prof.Dr.Ir. Jajah Koswara yang waktu itu menjabat sebagai PD II Fakultas Pascasarjana IPB, serta Dr.Ir. Freddy Rumawas.  

Perkuliahan KPK IPB UNAND dilakukan 2 semester di Padang dan 1 semester di IPB Bogor dan mahasiswa dibimbing oleh dosen Fakultas Pertanian Unand dan IPB Bogor serta dari lembaga lainnya yang memenuhi syarat. Tahun 1987, KPK IPB Unand telah melahirkan lulusannya yang pertama yang tercatat waktu itu adalah Ir. Yunizar Gernawi, MS dan Ir. Darmijati, MS. Pada tahun 1990, KPK IPB UNAND dibubarkan, dan dikembangkan menjadi Program Pascasarjana Unand Padang yang mengasuh berbagai Program Studi dan sekarang telah membuka Program S3.  

Tahun 1991-1997 pada saat dekan dipercayakan kepada Prof.Dr. Muchlis Muchtar, MS mencatat suatu angka penyelenggaraan kerja sama dan seminar-seminar tertinggi. Dari catatan yang ada selama 6 tahun tersebut diselenggarakan 35 kali seminar dari beberapa aspek ilmu pertanian. 

Suatu hal yang dapat dicatat, beberapa staf Pengajar Fakultas Pertanian periode lebih kurang 35 tahun di Airtawar dan setelah di Limau Manis, dipercaya untuk menduduki jabatan penting di tingkat Universitas dan instansi lain seperti PR II (Ir.Syofyan Asnawi tahun 1968), Rektor (Prof.Dr.Ir.Jurnalis Kamil, MSc. tahun 1985), Ketua I Bappeda Sumbar (Ir.Firdaus Rivai MSc. tahun 1974), Ketua Bappeda Sumbar (Dr.Thamrin Nurdin, MSc. tahun 1980), PR I, selanjutnya Rektor dan Wakil Gubernur Sumbar (Dr.Ir.Fachri Ahmad MSc. tahun 1987, 1986 dan 2001). Selanjutnya PR II (Dr.Djaswir Zein tahun 1987), Koordinator Kopertis Wilayah X (Ir.Firdaus Rivai MSc tahun 1990), Sekretaris Kopertis Wilayah X (Ir.Yusrizal M.Zen, tahun 1996) dan dilanjutkan oleh Dr. Bujang Rusman (2002). Ketua Bappeda Sumbar (Prof.Dr.Muchlis Muchtar, MS tahun 2001). PR II (Dr.Musliar Kasim Tahun 2002), selanjutnya Rektor Universitas Andalas, Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan akhirnya wakil Menteri Pendidikan. Kemudian tercatat Prof.Dr. Helmi, MSc. sebagai Wakil Rektor IV (2012), dilanjutkan oleh Dr.Ir. Endry Martius, MSc. tahun 2016. Tercatat pula dari alumni. Ir.Husni Kamil Manik (alm) sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum Pusat. 

Pada era 1980 an beberapa dosen dipercaya pula sebagai Rektor pada Perguruan Tinggi Swasta antara lain Universitas Tamansiswa (Prof.Ir.Djafaruddin tahun 1989), Universitas Muhammad Yamin (Prof. Syafri Syafei, MS tahun 1989), Universitas Nusantara (Prof.Yuliar Anas, Ir. Isril Berd, SU tahun 1989 dan 1992).   

Pada tahun-tahun selanjutnya semakin banyak Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas dipercaya untuk jabatan tertentu antara lain Prof.Dr.Rahmat Syahni MSc sebagai Ketua Bappeda, KaDinas Pendidikan dan jabatan lain, Dr.Ir. Darmawan sebagai Ka Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang. Tercatat pula tahun 2012 Prof.Dr.Ir. Reni Mayerni sebagai Ka Dinas Perkebunan Dharmasraya, Dr.Jumsu Trisno sebagai Ka Dinas Pertanian Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Pasisir Selatan (2017).Di samping itu permintaan pihak perguruan tinggi swasta kepada Fakultas Pertanian untuk panitia Ujian negara. Sampai sekarang masih ada permintaan untuk jabatan-jabatan struktural pada pemerintahan di luar Unand. 

Suatu keunikan kampus Airtawar adalah bangunan yang sempit sehingga terjadilah interaksi yang kondusif antara sesama dosen dan mahasiswa. Mahasiswa dan dosen bercampur baur pada pekarangan dan ruangan yang sempit setiap hari, sehingga antara satu dengan yang lain mengenal dengan baik. Kantor administrasi terletak pada bagian Selatan dan Ruang Kuliah serta laboratorium di Utara. Kedua tempat itu disebut sehari-hari dengan “ujung”. Perkelahian dengan mahasiswa IKIP Padang (sekarang UNP) senantiasa terjadi sepanjang tahun. Puncak perkelahian biasanya dipicu pada saat pertandingan sepak bola dan penerimaan mahasiswa baru.  

Dewasa ini tinggallah kampus Airtawar dalam nostalgia, terutama bagi alumni yang didik di tempat itu. Beberapa kolam yang dijadikan untuk mandi berlumpur saat Posma (perpeloncoan) telah ditimbun, sebagai kenangan manis dan pahit pada saat menjadi mahasiswa baru bermandi setiap pagi dan sore. 

 4. Limau Manis - Padang

Pembangunan Kampus Limau Manis yang mulai dicanangkan tahun 1975 pada saat itu Rektor adalah Drs. Mawardi Yunus. Kemudian waktu Universitas Andalas dipimpin oleh Prof.Dr.Ir. Jurnalis Kamil untuk dua kali masa jabatan dan dlanjutkan pada waktu kepemimpinan Prof.Dr.Ir. Fachri Ahmad, MSc., pembangunan kampus merupakan puncak pembangunan fisik dengan bantuan dana dari World Bank ke-IX di samping APBN. Kampus untuk Fakultas Pertanian selesai tahun 1995. Tanggal 25 Februari 1995 yang pada waktu Dekan Dr.Ir. Muchlis Muchtar, MS dilakukan hijrah yang ke tiga. Bangunan lama di Airtawar diserahkan ke IKIP Padang (sekarang UNP). Kampus baru khusus untuk Fakultas Pertanian luas lantainya bangunan saja 24.943 m2 yang terdiri dari perkantoran, ruang dosen dan laboratorium. Kampus baru ini telah dilengkapi dengan sarana dan prasarana seperti peralatan laboratorium, rumah kaca, dan jaringan komputer dengan sistim LAN (Local Area Network) yang memadai. Secara intensif pada tahun 2006 dilakukan komputerisasi secara terpusat oleh Universitas untuk semua kegiatan akademik. Sekarang lalu lintas data ini dikendalikan oleh Lembaga Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi ditingkat Universitas.  

Dalam pengembangan ke depan Fakultas Pertanian Universitas Andalas senantiasa mempertajam visi dan misinya. Sebagai visi ditetapkan bahwa Fakultas Pertanian Universitas Andalas sebagai lembaga pendidikan tinggi untuk menghasilkan sarjana pertanian yang bertaqwa kepada Tuhan YME, bermoral tinggi, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, relevan dengan kebutuhan serta mampu bersaing baik di bidang akademik maupun dunia kerja, memiliki kompetensi ilmu pertanian yang kuat.