


PADANG, 7 April 2026 – Merespons dinamika ketidakpastian global yang kian eskalatif, Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Faperta UNAND) menyelenggarakan wadah diskusi bertajuk "Faperta Strategic Dialogue: Geopolitik Pangan dan Masa Depan Pertanian: Apakah Pendidikan Pertanian Siap Menghadapi Krisis Global?". Diskusi strategis ini dilangsungkan secara hybrid pada Balai Sidang Prof. Dr. Ir. Jurnalis Kamil, M.Sc., Ph.D. dan melalui platform Zoom pada Selasa, 7 April 2026.
Acara yang dipandu oleh Muhammad Fadli, Ph.D. ini menghadirkan sejumlah pakar dan akademisi terkemuka, yaitu Hasnah, Ph.D., Prof. Dr. Reflinaldon, Prof. Dr. Musliar Kasim, dan praktisi pertanian Ir. Zola Pandu.
Geopolitik Pangan sebagai Instrumen Kekuasaan
Dalam sambutan pembukaannya, Dekan Faperta UNAND, Prof. Dr. Ir. Indra Dwipa,MS menyoroti kondisi geopolitik dunia yang sedang bergejolak akibat rentetan konflik bersenjata. Beliau menyebutkan bahwa setelah perang Rusia-Ukraina yang berdampak pada fluktuasi impor gandum Indonesia hingga 97%, kini dunia kembali dihadapkan pada ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Irak yang berlangsung sejak Februari 2026.
Prof. Indra menekankan bahwa konflik global, perubahan iklim, dan disrupsi rantai pasok telah mengubah paradigma ketahanan pangan. Pangan kini tidak lagi sekadar isu distribusi atau produksi, melainkan telah bertransformasi menjadi instrumen kekuasaan dan penentu kedaulatan sebuah bangsa.
"Secara jujur, kita harus mengakui bahwa pendidikan pertanian di Indonesia masih berada pada persimpangan jalan," ungkap Prof. Indra. Beliau memaparkan beberapa tantangan utama yang saat ini dihadapi sektor pendidikan pertanian:
Sebagai langkah adaptif dalam menghadapi ancaman krisis energi dan pangan, Departemen Agronomi Faperta UNAND telah menawarkan mata kuliah "Bioenergi". Langkah ini disiapkan untuk mendukung program pemerintah dalam pemanfaatan produk pertanian sebagai bahan bakar nabati, seperti peningkatan kadar sawit dalam biodiesel (B50)
Gagasan Transformasi Pertanian Berkelanjutan
Menjawab tantangan tersebut, Ir. Zola Pandu selaku salah satu narasumber memaparkan sejumlah strategi kunci untuk membenahi ekosistem pendidikan dan praktik pertanian di lapangan. Beberapa gagasan yang ditekankan meliputi:
Ir. Zola juga menyoroti sebuah ironi di dunia agrikultur saat ini. Menurutnya, bisnis pertanian terbukti menguntungkan dan akan terus memiliki prospek cerah selama manusia masih membutuhkan makanan. Namun, keberanian dan nyali lulusan pertanian untuk langsung terjun ke lapangan masih cenderung rendah. Oleh karena itu, kampus didorong untuk lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan berkelanjutan, khususnya komoditas strategis seperti padi sawah.
Melalui Strategic Dialogue ini, Fakultas Pertanian diharapkan tidak sekadar menjadi pusat pembelajaran, tetapi mampu bertransformasi menjadi pusat inovasi yang mengintegrasikan teknologi digital dan memperkuat jiwa kewirausahaan. Jika mampu beradaptasi dengan cepat, pendidikan pertanian Indonesia berpeluang besar menjadi pelopor sistem pangan berkelanjutan di tingkat global.